Pengertian Skizofrenia

Penjelasan Lebih lanjut tentang Skizofrenia.
otak
Skizofrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham (keyakinan salah dan tak dapat dikoreksi) dan halusinasi (seperti mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada). Skizofrenia adalah juga penyakit yang mempengaruhi wicara serta perilaku. Seseorang yang menderita skizofrenia mungkin mengaku bahwa diri mereka adalah 'orang besar'. Seperti halnya pengalaman Satira Isvandiary (Evie) yang dituturkan dalam psikomemoarnya bahwa ia yakin jika ia adalah Ratu Adil yang dapat berbicara dengan segala makhluk tanpa batasan bahasa dan dapat berhubungan dengan Tuhan secara langsung. Pada kasus yang lebih jarang, bahkan ada penderita yang mengaku bahwa ia adalah Tuhan itu sendiri. namun gejala itu dapat bertumpuk dengan pikiran dan perasaan bahwa mereka adalah korban dari para penyiksa (victim of persecutors). mereka tak berdaya menghadapi kenyataan hidup karena pikiran dan perasaan mereka dipenuhi oleh waham dan halusinasi yang membuat diri mereka melambung dan sekaligus terhempas. Pada banyak kasus ketersiksaan itulah yang cenderung bertahan lama di dalam diri penderita, sehingga menurut data statistik 50% penderita skizofrenia pernah berusaha bunuh diri dan 10% berhasil mati.

Sejarah dan Istilah Skizofrenia:
Menurut The Oxford English Dictionary (1989) kata schizophrenia (skizofrenia) merupakan adaptasi dari kata dalam Bahasa Jerman schizophrenie. Kata ini diciptakan oleh E(ugen) Bleuler (1857-1939) dalam bukunya Psychiatrisch-Neurol. Wochenschr. kata dalam Bahasa Jerman itu sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu schizein yang artinya 'belah, pisah' (to split) dan phren yang arinya 'pikiran' (mind) .

Sebenarnya skizofrenia semula dinamai dementia praecox pada tahun 1899 yang juga adalah sebuah istilah Yunani yang artinya kemunduran fungsi intelektual (dementia) di usia dini (praecox) yang ditandai dengan daya pikir yang makin lama makin memburuk dan disertai gejala berupa waham dan halusinasi.

Eugen Bleuler memperkenalkan istilah skizofrenia karena penyakit ini mengakibatkan terpecahnya antara pikiran, emosi dan perilaku. Istilah skizofrenia menggantikan istilah dementia praecox semenjak ia tak selalu disertai oleh kemunduran daya pikir dan tidak selalu terjadi di usia muda.

Gejala-Gejala Skizofrenia:
Karena skizofrenia adalah penyakit yang kompleks, maka digunakanlah teknik untuk memeriksa secara medis sehingga penderita dapat dipelajari dengan cara yang objektif. salah satu pendekatan untuk menyederhanakan gejala-gejala skizofrenia adalah para peneliti membaginya menjadi gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif dapat didefinisikan sebagai fungsi yang berlebih atau terdistorsi dari fungsi normal, sedangkan gejala negatif dapat didefinisikan sebagai fungsi yang kurang atau hilang bila dibandingkan dengan fungsi normal.

Gejala positif meliputi waham, halusinasi, kekacauan wicara dan kekacauan perilaku seperti mendengar sesuatu yang tidak didengar oleh orang lain dan memakai pakaian yang tidak cocok dengan suasana.

Gejala negatif terdiri dari:
  • Perasaan yang datar (ekspresi emosi yang terbatas).
  • Alogia (keterbatasan pembicaraan dan pikiran, dalam hal kelancaran dan produktivitas).
  • Avolition (keterbatasan perilaku dalam menentukan tujuan).
  • Anhedonia (berkurangnya minat dan menarik diri dari seluruh aktivitas yang menyenangkan yang semula biasa dilakukan oleh penderita).
  • Gangguan perhatian (berkurangnya konsentrasi terhadap sesuatu hal).
  • Kesulitan dalam berpikir secara abstrak dan memiliki pikiran yang khas (stereotipik).
  • Kurangnya spontanitas.
  • Perawatan diri dan fungsi sosial yang menurun.
         (Benhard Rudyanto Sinaga. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. 2007).

Gejala negatif skizofrenia nampaknya saling tumpang-tindih satu sama lain. Tiap-tiap gejalanya mewakili pengurangan dalam kemampuan emosional dan daya pikir yang penting bagi aktivitas sehari-hari.

Tipe-tipe Skizofrenia:
  1. Skizofrenia Paranoid dengan ciri mempunyai perasaan yang takut akan ancaman dan hukuman.
  2. Skizofrenia Katatonik dengan ciri diam membisu.
  3. Skizofrenia Sengkarut/Kacau dengan ciri perilaku yang kacau, rusak, dan kekanak-kanakan. (semula dinamai Skizofrenia Hebefrenik).
  4. Skizofrenia Sederhana (Simple Schizophrenia) dengan ciri bersikap apatis, tidak peduli terhadap lingkungan, menarik diri dari pergaulan sosial, dan sama sekali tak peduli terhadap dunia sekitarnya namun tidak ada halusinasi dan tidak berperilaku kacau. Subtipe ini kini tak lagi diakui ke dalam golongan penyakit skizofrenia.
  5. Skizofrenia Residual yang memperlihatkan gejala-gejala sisa.

Penyebab Skizofrenia:
Faktor genetis
Skizofrenia disebabkan oleh banyak faktor. Skizofrenia jelas-jelas memiliki dasar biologis. namun nampaknya faktor psikososial juga berperan penting.
Hal pertama yang tidak boleh dilupakan adalah genetika. Walaupun ada kesulitan untuk menentukan gen mana yang mengakibatkan timbulnya skizofrenia, penelitian menunjukkan bahwa faktor pewarisan gen memiliki peranan dalam timbulnya skizofrenia pada seorang individu.

Dari berbagai penelitian terhadap anak kembar. mulai yang dilakukan oleh Luxenburger (1928) hingga Gottesman dan Shields (1972) dapat diketahui potensi anak kembar satu telur (monozygotic twin) untuk menderita skizofrenia adalah 35-69%. Pada kembar dari telur yang berbeda (dizygotic twin) kemungkinannya adalah 0-27% (Atkinson, Atkinson dan Hilgard. Pengantar Psikologi. 1996).

Apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, maka kemungkinan anaknya menderita skizofrenia adalah 10%. Sedangkan bila kedua orang tua menderita skizofrenia kemungkinannya naik menjadi 40%. bahkan bila tak ada kerabat yang menderita skizofrenia, seseorang secara genetis masih mungkin menderita skizofrenia, karena potensi dalam populasi untuk menderita skizofrenia adalah 1%. Sehingga saat ini di kala Indonesia berpenduduk 230 juta jiwa, maka ada 2,3 juta orang yang menderita skizofrenia di negeri ini.

Faktor Neurokimiawi
Teori biokimiawi yang paling terkenal adalah hipotesis dopamin. Dopamin adalah salah satu neurotransmiter (zat yang menyampaikan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain) yang berperan dalam mengatur respon emosi. Pada penderita skizofrenia, dopamin ini dilepaskan secara berlebihan di dalam otak. Sehingga timbullah gejala-gejala seperti waham an halusinasi.

Adapun penggunaan antipsikotik (obat medis untuk skizofrenia) generasi pertama (yang terkenal dengan sebutan obat tipikal) seperti Haloperidol dapat menimbulkan suatu dilema karena obat ini menekan pengeluaran dopamin di mesolimbik dan mesokortikal. Penurunan aktivitas dopamin di jalur mesolimbik memang dapat mengatasi gejal positif seperti waham dan halusinasi, namun akan meningkatkan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri dari peraulan sosial dan penurunan daya pikir. hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan antipsikotik generasi kedua (yang terkenal dengan sebutan obat atipikal) seperti Risperidone dan Quetiapine karena antipsikotik atipikal menyebabkan dopamin di jalur mesolimbik menurun tetapi dopamin yang berada di jalur mesokorteks meningkat. (Benhard Rudyanto Sinaga. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. 2007).
NB: Saya punya bukunya, bagi yang tinggal di jogja boleh pinjam dari saya buat di fotokopy, tapi dibalikin ya. hehe

Postingan ini ada setelah saya mengingat/melakukan update postingan saya yang dulu berjudul Skizofrenia, dan membaca ulang buku / skripsi saya dan searching googling bahan-bahan sumber internet yang saya gunakan sebagai daftar pustaka Skripsi saya.
  
Daftar Pustaka:
  • Buku: Iman Setiadi Arif, Refika Aditama, Bandung, 2006
  • Buku: Benhard Rudyanto Sinaga. Skizofrenia dan Diagnosis Banding
  • http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1617336-seputar-dunia-skizofrenia/
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Skizofrenia

Sekian dan Terima Kasih.
Continue Reading »

Sejarah Skizofrenia

Penelantaran anggota keluarga pada umumnya seringkali terjadi apabila anggota keluarga tersebut menderita penyakit, khususnya penyakit skizofrenia. Kata “skizofrenia” atau dalam bahasa Inggrisnya “schizophrenia” ternyata sudah terlahir sejak kurang lebih 150 tahun yang lalu. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi sebagai penyakit mental diskrit oleh Dr Emile Kraepelin pada tahun 1887.
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “ skizo “ yang artinya retak atau pecah, dan “ frenia “ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian.
Skizofrenia sendiri dapat ditelusuri yang pada akhirnya akan mengarah kepada zaman Firaun Mesir kuno. Depresi, demensia, serta gangguan berpikir yang khas dalam skizofrenia dijelaskan secara rinci dalam Kitab Hati (Book of Hearts). Hati dan pikiran tampaknya telah menjadi hal yang sinonim pada zaman peradaban Mesir kuno. Manusia pada zaman tersebut mempercayai bahwa penyakit fisik berhubungan dengan racun dan iblis.

Sebuah studi terbaru dalam sastra Yunani dan Romawi kuno menunjukkan bahwa meskipun masyarakat umum (mungkin) memiliki kesadaran mengenai gangguan psikotik, namun tidak ada satu pun yang akan memenuhi criteria atas diagnosa skizofrenia.
Di sisi lain, orang yang dianggap “abnormal,” (baik karena sakit mental, keterbelakangan mental, atau cacat fisik) sebagian besar diperlakukan sama. Teori awal mengatakan bahwa penyakit gangguan mental disebabkan oleh bagian jahat yang dimiliki oleh tubuh, dan tindakan atau perlakuan yang tepatlah yang kemudian dapat mengusir bagian jahat ini. Tindakan tersebut dapat melalui berbagai cara, mulai dari perawatan berbahaya (seperti mengekspos pasien untuk jenis musik tertentu) dan kadang-kadang mematikan (misalnya seperti melepaskan roh-roh jahat dengan melubangi di tengkorak pasien).
Salah satu yang pertama untuk mengklasifikasikan gangguan mental ke dalam kategori yang berbeda adalah seorang dokter yang berasal dari Jerman, Emile Kraepelin. Dr Kraepelin menggunakan “dementia praecox” istilah untuk individu yang memiliki gejala yang sekarang kita kaitkan dengan skizofrenia.
Konsep nonspesifik kegilaan telah ada selama ribuan tahun dan skizofrenia hanya diklasifikasikan sebagai gangguan mental yang berbeda oleh Kraepelin pada tahun 1887. Dia adalah orang pertama yang membuat sebuah perbedaan dalam gangguan psikotik antara apa yang disebut dementia praecox dan depresi manik. Kraepelin percaya bahwa dementia praecox utamanya adalah penyakit otak, dan khususnya bentuk dari singkat akal. Kraepelin menamakan ‘dementia praecox’ (gangguan awal demensia/singkat akal/kemunduran mental) untuk membedakannya dari bentuk-bentuk demensia (singkat akal/kemunduran mental seperti penyakit Alzheimer) yang biasanya terjadi pada akhir usia. Dia menggunakan istilah ini karena studinya difokuskan pada orang dewasa muda dengan demensia/singkat akal/kemunduran mental.
orang dengan skizofreniaPsikiater Swiss, Eugen Bleuler, menciptakan istilah, “skizofrenia” pada tahun 1911.Dia juga orang pertama yang menggambarkan gejala-gejala sebagai “positif” atau “negatif.” Bleuler mengganti namanya menjadi skizofrenia karena jelas bahwa nama yang diberikan oleh Krapelin itu menyesatkan, karena penyakit itu bukan suatu demensia/singkat akal/kemunduran mental (hal itu tidak selalu menyebabkan kemunduran mental) dan kadang-kadang dapat terjadi juga di awal kehidupan.

Kata “skizofrenia” berasal dari akar Yunani orang yg menderita skizofrenia (split) dan phrene (pikiran) untuk menggambarkan pemikiran terfragmentasi orang dengan gangguan tersebut. Istilahnya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan kepribadian ganda atau multiple, yang umum disalahpahami oleh masyarakat luas. Sejak zaman Bleuler’s, definisi skizofrenia terus berubah, sebagai ilmuwan mencoba untuk lebih akurat melukiskan berbagai jenis penyakit mental. Tanpa mengetahui penyebab pasti dari penyakit ini, para ilmuwan hanya dapat mendasari klasifikasi mereka pada pengamatan bahwa beberapa gejala cenderung terjadi bersamaan.
Baik Bleuler dan Kraepelin membagi skizofrenia ke dalam beberapa kategori, berdasarkan gejala menonjol dan prognosis. Selama bertahun-tahun, mereka yang bekerja di bidang ini terus mencoba untuk mengklasifikasikan jenis skizofrenia. Lima jenis yang dimaksud dalam DSM-III: tidak terorganisir, katatonik, paranoid, residu, dan tidak dibedakan. Tiga kategori pertama awalnya diusulkan oleh Kraepelin.
Klasifikasi ini, sementara masih bekerja pada DSM-IV, tidak terbukti membantu dalam memprediksi hasil dari gangguan, dan jenis tidak andal didiagnosis. Banyak peneliti menggunakan sistem lain untuk mengklasifikasikan jenis gangguan tersebut, berdasarkan dominan “positif” vs “negatif” gejala, perkembangan dari gangguan dalam hal jenis dan keparahan gejala dari waktu ke waktu, dan kejadian yang tidak disengaka lain atas gangguan mental dan sindrom. Dengan membedakan jenis skizofrenia berdasarkan gejala klinis, diharapkan akan membantu untuk menentukan etiologi yang berbeda atau penyebab gangguan tersebut.
Bukti bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis berbasis otak mempunyai perkembangan pesat selama dua dekade terakhir. Bukti baru-baru ini telah juga telah didukung dengan sistem pencitraan otak dinamis yang sangat tepat menunjukkan gelombang pengalihan jaringan yang terjadi di otak yang menderita skizofrenia. [dari versi berbahasa Inggris: http://www.schizophrenia.com/history.htm]
Dengan kemajuan pesat dalam genetika penyakit manusia sekarang terjadi, masa depan terlihat cerah bahwa terapi yang efektif sangat lebih dan akhirnya menyembuhkan - akan diidentifikasi.
Para pasien skizofrenia bertingkah laku aneh dalam hidup mereka. Sementara orang yang normal merasa hendak menangis, penderita skizofrenia boleh jadi tertawa ataupun tidak menunjukkan perasaan apapun dari luar. Sebaliknya, ia mungkin menangis pada waktu orang-orang lain tertawa. Penderita skizofrenia sering minder, tidak mempunyai teman, menganggur, malas, aneh, bicara sendiri, ketawa sendiri, terkadang memikirkan untuk bunuh diri saja, tak pandai mengatur uang, kegiatan itu-itu saja, monoton, kurang variasi, tak bisa bergaul, dan banyak lagi sifat atau gejala yang aneh. Ada beberapa langkah yang dapat membantu mengatasi gejala skizofrenia, antara lain belajar menanggulangi stress, depresi, belajar rileks, dan tidak menggunakan alcohol ataupun obat-obatan tanpa sepengetahuan dokter serta segera berkonsultasi ke dokter/psikiater, juga bantuan dari orang-orang terdekat yaitu keluarga.


Daftar pustaka:
  • Buku: Iman Setiadi Arif, Refika Aditama, Bandung, 2006
  • Buku: Benhard Rudyanto Sinaga, Skizofrenia dan Diagnosis Banding, 2007
  • Blog: http://marlisakurniaty.blogdetik.com/sejarah-schizophrenia/
  • Web: http://www.schizophrenia.com/history.htm
  • Facebook: http://www.facebook.com/pages/Komunitas-Peduli-Skizofrenia-Indonesia/359467152692
Continue Reading »

Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia

A Beautiful Mind: Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia
Setelah postingan saya yang kemarin membahas tentang sejarah skizofrenia, kini saya membahas tentang sebuah film yang masih berhubungan dengan skizofrenia.
Yaitu film yang berjudul A Beautiful Mind.
Film A Beautiful Mind mengisahkan seorang matematikawan peraih nobel dibidang ekonomi, bernama John Nash.
cover film skizofrenia

Film ini diawali saat John Nash yang masih menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi ternama, Princeton. Sebagai mahasiswa, John termasuk unik. Dia tak suka belajar dikelas. Lebih suka belajar secara otodidak. Mencari dan mengamati sekitar demi mendapatkan ide kreativitasnya secara alami, untuk meraih gelar doktornya.

Namun tak banyak yang menyadari, John juga merupakan penderita skizofrenia. Suatu penyakit mental yang gejalanya antara lain, tak dapat membedakan antara halusinasi dan kenyataan, memiliki keyakinan yang salah/delusi, menarik diri dari pergaulan, serta kemampuan bersosialisasinya menghilang. Penyakit John ini semakin parah saat dia mulai bekerja di Wheller Defense Lab di MIT, sebuah pusat penelitian bergengsi.

Perubahan besar mulai terjadi saat John ditugaskan sebagai mata-mata oleh Pentagon. Dimana dia mulai terobsesi dan hidup jauh diambang normal, alias hanya dalam dunianya sendiri. Hal ini membuat sang istri menjadi nervous dan dilanda kecemasan. Adegan demi adeganpun bergulir cukup menegangkan.

Namun alur kisah berjalan apik dan cukup menguras emosi. Terutama saat sosok sang istri berada dibatas keputusasaanya saat mengetahui kondisi jiwa sang suami.

Ternyata pekerjaan sebagai mata-mata pentagon adalah sebuah ilusi dan bukan realitas sebenarnya. Inilah masalah terberat yang dialami para skizofrenia, karena beberapa realitas yang mereka alami adalah sebuah ilusi.

Diperankan dengan sangat baik oleh aktor papan atas Russel Crowe sebagai John Nash, dan Jennifer Conelli sebagai istrinya. Film ini patut ditonton karena menambah pengetahuan kita, bagaimana perjuangan seorang skizofrenia dalam mengatasi situasi dirinya. Terutama efek penyakit yang diderita terhadap orang-orang disekelilingnya.

Penderita skizofrenia sebenarnya menyadari keganjilan-keganjilan dirinya, meski tak mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia

Digambarkan pula bagaimana orang-orang terdekatlah yang diharapkan mampu menjadi pilar utama kesembuhanya. Karena seorang skizof pada dasarnya sangat membutuhkan pengertian mendalam orang-orang dekatnya, agar mampu meyakini dirinya bahwa dia bisa sembuh. Namun terapi medis juga tetap diperlukan agar kesembuhan mencapai tarafnya kearah yang lebih baik.

Meskipun tak semua penyakit skizofrenia mudah disembuhkan dalam hitungan setahun dua tahun, melainkan bertahun-tahun lamanya, namun lewat film ini kita sebagai manusia normal sepatutnya tak langsung menganggap bahwa penderita skizofrenia adalah penyakit gila turunan atau penyakit yang hanya diderita oleh orang-orang tertentu saja. Karena dengan situasi mental yang rapuh dan stimulan otak alam bawah sadar yang tidak singkronisasi dalam aliran energinya, penyakit ini bisa menyerang siapapun.
Film produksi tahun 2001 ini dengan sangat jelas menggambarkan semua itu.

A Beautiful Mind: Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia

Film ini adalah hasil saduran dari buku biografi karya Sylvia Nassar, untuk mengenang John Nash.

Film ini diakhiri dengan adegan John Nash ketika menerima hadiah Nobel di Swedia pada tahun 1994 untuk teori ekulibriumnya yang banyak berjasa pada teori-teori ekonomi.

Setelah mendapatkan penganugrahannya tersebut ia mengatakan: “Aku selalu percaya akan angka. Dalam persamaan dan logika, yang membawa pada akal sehat. Tapi setelah seumur hidup mengejar, aku bertanya, apa logika sebenarnya? Siapa yang memutuskan apa yang masuk akal? Pencarianku membawaku ke alam fisik, metafisik, delusional. Telah kudapatkan penemuan penting dalam karirku, hidupku. Hanya dipersamaan misterius cinta, alasan logis bisa ditemukan”.

Cerita film A Beautiful Mind ini saya dapatkan dari yang terhormat Sayuri Yosiana.


Terimakasih, anda telah membaca Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia menurut Jhs King Rockwell Rating ( 5.0 )
Continue Reading »