Pergulatan Ruang Batin

PERGULATAN RUANG BATIN
Puisi Handaka Sugito

Awalnya hanya sebuah cerita seperti halnya cerita pepesan kosong yang tiada berarti. Runtut dalam kesedihan panjang yang tersusun bertumpuk menyesakkan dada. Terurai bak sebuah kisah dalam telenovela. Kadang tertawa meski sebenarnya menangis. Kadang menangis meski sebenarnya tertawa. Yah....mentertawakan durasi sebuah cerita pergulatan batin yang diyakini sebagai sebuah pengabdian dan ketulusan.

Meski sejenak untuk sekedar menyisihkan waktu, coba memahami sequil cerita dari empunya. Pembaktian dirinya yang luar biasa menimbulkan rasa haru. Kepedihan hatinya menimbulkan rasa hormat. Bukan basa-basi, bukan pula sebuah elegi yang pantas ditertawakan. Tidak pula lantas bisa dikatakan sebuat ironi dalam perjuangan sebuah bahtera kehidupan.

Dalam kesendirian, menerawang sebuah angan untuk berbagi. Menyusun dan menuliskan sepotong cerita yang tak sempat terselesaikan. Mematrikan sebuah makna agar dapat dikenang. Lalu...tersendat karena waktu.

Beristirahatlah untuk menikmati kedamaian rasa cinta, meski hanya secuil. Biarkan rasa itu perlahan merayapi kening....damai. Biarkan rasa itu mulai memberkahi lebih dari sekadar pelarian derita. Cinta itu akan memberi kekuatan emosional untuk tetap tegar melangkah dalam membimbing dan mengarahkan buah kasih dalam perjalanan panjang.

Berhentilah dari perasaan menyiksa diri dengan pertanyaan “kenapa ?”. Terkadang emosi hanya bisa menyalahkan siapa, tanpa peduli dengan pertanyaan "apa ?".

Percayalah...diujung pencarian masih ada setapak jalan untuk melangkah. Masih ada haru yang akan mengobati luka. Masih ada ruang sempit untuk memasang bingkai. Masih ada kesopanan & penghargaan yang pantas diterima. Hanya soal kepedulian yang mungkin ter-kesampingkan, tapi percayalah....bahwa berbagi cerita dalam pergulatan peluh akan mengobati rasa duka.

Ketika detak nafas mulai berpacu dan bulir keringat memberikan kesaksian, mungkin kedamaian akan sedikit melegakan. Lalu.......satu demi satu rangkaian kata akan kembali tertata memahatkan sebuah cerita yang takkan terlupa.

Samarinda, 15 April 2012

0 komentar

Post a Comment